« A Phone Call From A Long Lost Friend | Main | Part II »

Part I

Dia ada disana, di antara garis - garis matahari sore

Keanggunan senja merunduk saat menatap wajahnya

Terkurung selamanya di matanya

Satu iblis datang

Yang tidak memiliki perasaan

Pada dirinya atau pada orang lain

Satu iblis yang telah terbiasa dengan kesendirian dan kebekuan

Satu iblis datang dalam guguran daun dan semilir angin

Dan terdiam saat melihat keindahan cahaya

Dan hatinya tergetar saat langkah cahaya mendekat

Dia datang dalam damai

Tidak mengetahui apa yang telah dilakukannya pada hati sang iblis

Tidak menyadari

Dan tidak akan pernah tahu

Satu iblis yang tidak memiliki hati

Tidak pernah merasakan apapun saat melihat orang lain

Saat sang iblis mendengar langkah cahaya

Yang dia inginkan hanyalah menghangatkan cahaya

Entah timbul dari mana niat itu

Sebuah cahaya tidak perlu diberikan kehangatan,

Sang iblis berkata

Dan sebuah cahaya dapat menghangatkan dirinya sendiri

Dan sebuah cahaya tidak perlu kehangatan yang diberikan oleh seorang iblis

Yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menghangatkan dirinya sendiri

Sang iblis hanya bisa tertawa

Menertawakan hal yang tidak mungkin terjadi

Dan tidak perlu terjadi

Cahaya masih menari – nari di hadapannya

Masih dalam seluruh kedamaiannya

Sang iblis hanya menatap cahaya dalam senyumnya

Cahaya, cahaya

Apa yang sebenarnya kamu cari

Senja telah merunduk di hadapanmu

Iblis telah menghangatkan hatinya untuk kehadiranmu

Kedamaian selalu berjalan mengelilingimu

Kenapa kamu masih berpaling

Sang iblis menghela nafasnya

Kepasrahan melepas bebas dari sana dan mulai membangunkan ruang hatinya

Sang iblis melihat hatinya

Apa yang ingin kamu katakan

Apakah saat ini kamu akan berkata, inilah saatnya

Untuk mengakhiri semua kebekuan

Untuk meruntuhkan dinding – dinding tinggi dan kokoh yang selama ini dijaga ketat

Atau akan menertawakan betapa menyedihkannya seorang iblis

Yang telah menaklukkan banyak orang

Yang telah menghempaskan semua yang mendekat

Tapi saat melihat cahaya

Hanya bisa duduk terdiam

Tanpa bisa melakukan apapun

Bahkan tidak mampu menghancurkan sebuah cahaya

Hatinya hanya tersenyum

Hatinya memanggil cahaya

Tapi cahaya tidak mendengar

Hatinya memanggil cahaya lebih keras

Tapi cahaya tidak mendengar

Hatinya berteriak memanggil cahaya

Tapi cahaya tidak mendengar

Hatinya mulai panik

Ia memukul cahaya

Menggigit, mencakar, berteriak di telinganya

Tapi cahaya tetap tidak mendengar

Hatinya mulai menangis

Hatinya menangis di hadapan cahaya

Berharap ia akan terlihat bagi cahaya

Tapi cahaya tetap tidak melihat apapun

Sang iblis hanya tertawa

Dan tetap melihat cahaya yang menari di hadapannya

Dan memanggil hatinya kembali

Apa yang kamu harapkan

Hal ini tidak pernah tercipta untuk kita

Kesendirianlah yang tercipta untuk kita

Sekeras apapun aku berteriak memanggilnya

Dia tidak akan melihat

Jadi apa gunanya

Hatinya hanya bisa menangis dan menatap cahaya

Hatinya mulai mengutuk cahaya karena tidak mendengar

Sang iblis kembali tertawa

Dan dia berkata pada hatinya

Cahaya tidak pernah tercipta untuk iblis

Maka dari itu aku hanya memandangnya dari jauh

Mungkin aku akan tetap tergetar saat mendengar langkahnya

Aku masih ingin memberikannya kehangatan

Aku akan rela jika dia memintaku menjadi cahayanya

Dan membuang sayap ini

Dan aku masih tidak tahu kenapa aku ingin melakukan hal itu

Tapi,

Dia harus melihatku dulu

Dia harus memintaku dulu

Dan sampai saat itu datang

Dinding ini tetap akan ada

Sayap ini akan tetap disini

Kebekuan ini akan tetap ada

Hatinya mendongak dan berkata,

Jika kamu tidak melakukan apapun

Bagaimana cahaya akan datang

Bagaimana cahaya akan mengetahuinya

Semua keinginanmu akan menjadi percuma

Bagaimana bisa kamu mengharapkan cahaya akan datang jika ia tidak mengetahuinya

Sama sekali tidak mengetahui

Dan kebekuanmu akan bertambah

Karena sakit yang kamu rasakan saat menunggunya

Dan bukankah cahaya tidak pernah tercipta untuk iblis

Sang iblis menatap cahaya yang menari – nari di hadapannya

Hanya menatap

Dan masih menatap

Tanpa bisa berkata apapun kepada cahaya

Saat itu

Sedikit demi sedikit

Kebekuannya bertambah

Hatinya mulai merasa sakit

Mulai merasa sakit sekali

Hatinya sakit

Sakit sekali

Sang iblis meletakkan hatinya dihadapan cahaya

Tapi cahaya tidak pernah tahu

Satu iblis pergi dalam guguran daun dan semilir angin

Dan terdiam saat melihat keindahan cahaya

Dan sang iblis berkata pelan kepada cahaya

Teruslah bersinar

Agar aku bisa menemukanmu lagi

Dan terkurung selamanya di matamu

Tapi cahaya tidak pernah mendengar

Comments

hmmm, iblis tdk memiliki hati, tp dia berikan hatinya pd cahaya. bahkan memanggil2, menggigit, mencakar. hati apakah itu? lebih jauh lg, apakah hati itu?
cahaya berada dlm kedamaian, krn dia memaknai sekelilingnya dgn kedamaian. damai, beku, sakit, indah adalah bentuk, bukan esensi. memiliki bentuk karena dimaknai oleh subjek. iblis memberi bentuk pd hatinya dgn memaknai hatinya dgn tdk memiliki perasaan, terbiasa dgn beku dan kesendirian, memberikan kehangatan kpd yg tdk perlu diberi. ya beku dan sakitlah bentuknya. tp esensi, tdk berbentuk dan tdk dmaknai oleh apapun. esensi, atau hakikat, ialah apa adanya. kalo gt, apa esensi dr damai, beku, sakit, dan indah? kemudian, apa esensi dr hati?
dan jk direfleksikan ke diri sendiri, spt apakah hati kita? apa makna yg kt berikan kpd hati ini? tanyakan kpd Tuhan dan rumput yg bergoyang, kata Ebiet G. Ade. Peace.

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .