Part I
Dia ada disana, di antara garis - garis matahari sore Keanggunan senja merunduk saat menatap wajahnya Terkurung selamanya di matanya Satu iblis datang Yang tidak memiliki perasaan Pada dirinya atau pada orang lain Satu iblis yang telah terbiasa dengan kesendirian dan kebekuan Satu iblis datang dalam guguran daun dan semilir angin Dan terdiam saat melihat keindahan cahaya Dan hatinya tergetar saat langkah cahaya mendekat Dia datang dalam damai Tidak mengetahui apa yang telah dilakukannya pada hati sang iblis Tidak menyadari Dan tidak akan pernah tahu Satu iblis yang tidak memiliki hati Tidak pernah merasakan apapun saat melihat orang lain Saat sang iblis mendengar langkah cahaya Yang dia inginkan hanyalah menghangatkan cahaya Entah timbul dari mana niat itu Sebuah cahaya tidak perlu diberikan kehangatan, Sang iblis berkata Dan sebuah cahaya dapat menghangatkan dirinya sendiri Dan sebuah cahaya tidak perlu kehangatan yang diberikan oleh seorang iblis Yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menghangatkan dirinya sendiri Sang iblis hanya bisa tertawa Menertawakan hal yang tidak mungkin terjadi Dan tidak perlu terjadi Cahaya masih menari – nari di hadapannya Masih dalam seluruh kedamaiannya Sang iblis hanya menatap cahaya dalam senyumnya Cahaya, cahaya Apa yang sebenarnya kamu cari Senja telah merunduk di hadapanmu Iblis telah menghangatkan hatinya untuk kehadiranmu Kedamaian selalu berjalan mengelilingimu Kenapa kamu masih berpaling Sang iblis menghela nafasnya Kepasrahan melepas bebas dari sana dan mulai membangunkan ruang hatinya Sang iblis melihat hatinya Apa yang ingin kamu katakan Apakah saat ini kamu akan berkata, inilah saatnya Untuk mengakhiri semua kebekuan Untuk meruntuhkan dinding – dinding tinggi dan kokoh yang selama ini dijaga ketat Atau akan menertawakan betapa menyedihkannya seorang iblis Yang telah menaklukkan banyak orang Yang telah menghempaskan semua yang mendekat Tapi saat melihat cahaya Hanya bisa duduk terdiam Tanpa bisa melakukan apapun Bahkan tidak mampu menghancurkan sebuah cahaya Hatinya hanya tersenyum Hatinya memanggil cahaya Tapi cahaya tidak mendengar Hatinya memanggil cahaya lebih keras Tapi cahaya tidak mendengar Hatinya berteriak memanggil cahaya Tapi cahaya tidak mendengar Hatinya mulai panik Ia memukul cahaya Menggigit, mencakar, berteriak di telinganya Tapi cahaya tetap tidak mendengar Hatinya mulai menangis Hatinya menangis di hadapan cahaya Berharap ia akan terlihat bagi cahaya Tapi cahaya tetap tidak melihat apapun Sang iblis hanya tertawa Dan tetap melihat cahaya yang menari di hadapannya Dan memanggil hatinya kembali Apa yang kamu harapkan Hal ini tidak pernah tercipta untuk kita Kesendirianlah yang tercipta untuk kita Sekeras apapun aku berteriak memanggilnya Dia tidak akan melihat Jadi apa gunanya Hatinya hanya bisa menangis dan menatap cahaya Hatinya mulai mengutuk cahaya karena tidak mendengar Sang iblis kembali tertawa Dan dia berkata pada hatinya Cahaya tidak pernah tercipta untuk iblis Maka dari itu aku hanya memandangnya dari jauh Mungkin aku akan tetap tergetar saat mendengar langkahnya Aku masih ingin memberikannya kehangatan Aku akan rela jika dia memintaku menjadi cahayanya Dan membuang sayap ini Dan aku masih tidak tahu kenapa aku ingin melakukan hal itu Tapi, Dia harus melihatku dulu Dia harus memintaku dulu Dan sampai saat itu datang Dinding ini tetap akan ada Sayap ini akan tetap disini Kebekuan ini akan tetap ada Hatinya mendongak dan berkata, Jika kamu tidak melakukan apapun Bagaimana cahaya akan datang Bagaimana cahaya akan mengetahuinya Semua keinginanmu akan menjadi percuma Bagaimana bisa kamu mengharapkan cahaya akan datang jika ia tidak mengetahuinya Sama sekali tidak mengetahui Dan kebekuanmu akan bertambah Karena sakit yang kamu rasakan saat menunggunya Dan bukankah cahaya tidak pernah tercipta untuk iblis Sang iblis menatap cahaya yang menari – nari di hadapannya Hanya menatap Dan masih menatap Tanpa bisa berkata apapun kepada cahaya Saat itu Sedikit demi sedikit Kebekuannya bertambah Hatinya mulai merasa sakit Mulai merasa sakit sekali Hatinya sakit Sakit sekali Sang iblis meletakkan hatinya dihadapan cahaya Tapi cahaya tidak pernah tahu Satu iblis pergi dalam guguran daun dan semilir angin Dan terdiam saat melihat keindahan cahaya Dan sang iblis berkata pelan kepada cahaya Teruslah bersinar Agar aku bisa menemukanmu lagi Dan terkurung selamanya di matamu Tapi cahaya tidak pernah mendengar

hmmm, iblis tdk memiliki hati, tp dia berikan hatinya pd cahaya. bahkan memanggil2, menggigit, mencakar. hati apakah itu? lebih jauh lg, apakah hati itu?
cahaya berada dlm kedamaian, krn dia memaknai sekelilingnya dgn kedamaian. damai, beku, sakit, indah adalah bentuk, bukan esensi. memiliki bentuk karena dimaknai oleh subjek. iblis memberi bentuk pd hatinya dgn memaknai hatinya dgn tdk memiliki perasaan, terbiasa dgn beku dan kesendirian, memberikan kehangatan kpd yg tdk perlu diberi. ya beku dan sakitlah bentuknya. tp esensi, tdk berbentuk dan tdk dmaknai oleh apapun. esensi, atau hakikat, ialah apa adanya. kalo gt, apa esensi dr damai, beku, sakit, dan indah? kemudian, apa esensi dr hati?
dan jk direfleksikan ke diri sendiri, spt apakah hati kita? apa makna yg kt berikan kpd hati ini? tanyakan kpd Tuhan dan rumput yg bergoyang, kata Ebiet G. Ade. Peace.
Posted by: Harry | December 30, 2006 10:54 AM