Memories are very important, because sometimes, it’s the only thing you got.



Just? That’s a great word, isn’t it? It was just one of those things. Just fooling around. Just an affair. Just your cock in her mouth! *line edited* But hey! It’s no big deal. It’s not a matter of life and death. But then, you tell me, what the fuck ever is? (Butterfly on a Wheel)



Get the picture?

                            

Make A Memory

Hello again, it's you and me
Kinda always like it used to be
Sippin wine, killin time
Tryin to solve life's mysteries

How's your life? It's been a while
God, it's good to see you smile
I see you reachin for your keys
Lookin for a reason not to leave

If you don't know if you should stay
If you don't say what's on your mind
Baby just breathe
There's nowhere else tonight we should be
You wanna make a memory

I dug up this old photograph
Look at all the hair we had
It's bitter sweet to hear you laugh
Your phone was ringing, I don't wanna ask

If you go now, I'll understand
If you stay, hey, I got a plan
You wanna make a memory?
You wanna steal a piece of time?
You can sing the melody to me
And I can write a couple lines
You wanna make a memory?


Bon Jovi . (You Want to) Make A Memory

Friday Noon Tragedy

Minggu lalu saya ketemu sama orang yang punya berstatus kakak ketemu gede (dalam artian sebenarnya). Setelah hapir setahun ngga ketemu, obrolan diawali dengan pertanyaan standar dan sangat basa basi :


Kakak Ketemu Gede (bukan nama sebenarnya) : De, apa kabar kamu?

Saya : Kabar yang mana? Fisik atau mental?

KKG : Ya fisiklah, secara mental kamu kan ngga pernah baik.

Saya : Sial. Secara fisik baik, mental seperti biasa.


Sayangnya kondisi baik ini ngga bertahan lama. Hari jumat siang di minggu yang sama, saya jatoh dengan dua kali benturan. Benturan pertama kena bahu kiri, benturan kedua jatoh ke lantai dengan muka bagian kanan duluan. Huray. Saya yakin dengan sepenuh hati, gaya jatoh saya lebih keren dibandingkan gaya "jatoh dari lantai dua ke lantai satu dengan tangga"nya sinetron – sinetron Punjabi, hehe.. Seandainya aja saya jatoh dari lantai 12, itu kan jadi alesan yang lebih elite dari pada sekarang.


Setelah puas jatoh, secara refleks saya megang daerah mulut hidung. Wah, ternyata ada darahnya. Keren. Dan entah kenapa saya nangis, padahal saya ngga ngerasa sakit, pusing sih iya, tapi ngga sakit. Lalu saya mikir, “ah udah nanggung nangis inilah, terusin aja.” Jadilah saya menangis sesegukan sendirian. Setelah agak lama saya baru nyadar, saya nangis bukan karena abis jatoh, tapi karena hal lain. It’s weird. And quite funny, actually.. Lalu saya mulai ketawa tapi sambil nangis. Kalau aja ada yang ngeliat pasti ngira saya jatoh, geger otak trus gila.


Lalu saya kumur – kumur dan berjalan pelan – pelan ke kamar, untuk mencegah maneuver jatoh yang sama terjadi lagi. Waktu saya liat muka di kaca, shit, ngga ada bekasnya sama sekali! Ada sih, tapi di bibir bagian atas. I’m a fucking platypus! Kenapa yang bengkak mesti bagian bibir?!?! Kalo mata atau hidung atau pipi, orang yang ngeliat pasti bersimpati, kesannya saya adalah salah satu korban kekerasan dalam rumah tangga. Kalo bibir yang bengkak, belom apa – apa pasti ngetawain duluan. Euh..


Saya pernah baca a quotation di (kalo ngga salah) Reader’s Digests (don’t correct me if I’m wrong) dari (kalo ngga salah lagi) dari Dolly Parton (di bagian ini saya benar – benar ngga yakin.. Hey, I just fell!), dia bilang, “the way I see it, if you want to see the rainbow, you got to put up with the rain”. Ha! Benar sekali! Sebuah quotation yang bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah! Ngga semua quotation lho bisa dibuktikan kebenarannya dengan sains.. Haha.. Fuck. Sebenarnya mau sampai kapan saya harus sial kayak gini? Perasaan selain mukul dinding, saya menerima kenyataan dengan baik – baik saja, (Hint : tekan kenyataan dalam salah satu  sudut otak anda and keep it in there, haha..) tapi sampai sekarang I haven’t see the damn  rainbow. Where is it?? I'm soaking wet in here..

24.03.07, 02:00 AM

Ha! Saya baru selesai nonton prison break episode 20 jam 2 pagi, satu cara yang baik untuk mengakhiri hari dan sehat untuk mengawali weekend. Pada episode terakhir setting berada di Panama. Waktu saya ngeliat laut biru pasir putih langit cerah, saya keinget sama satu tempat, dimana saya kenalan dan dekat sama orang – orang baru, membuat musuh, menciptakan kenangan – kenangan indah dan surreal, dan sekarang meninggalkan memar di tiga jari kanan saya.

Menurut Najib Kailani pada novelnya ‘Mempelai sang Dajjal’, kenangan adalah salah satu anugrah Tuhan kepada manusia yang sangat indah dan cerdas. Bayangkan, anda bisa bertahan dan berjuang berada dalam satu kondisi, satu penderitaan, doing what you believe was right, –yang mungkin ngga dimengerti oleh orang lain- dan mampu melakukan apapun yang anda kira anda ngga bisa lakukan, hanya dengan berpegangan pada satu kenangan. Oh yeah, satu lagi, dengan harapan, at the end of the tunnel, kenangan baru bisa diciptakan untuk memperindah kenangan lama dan / atau mengerase seluruh penderitaan dan pengorbanan yang telah anda lakukan.

Iya kalo sukses, iya kalo bisa bikin kenangan baru yang indah dan mempesona. Lha, kalo gagal? Rasanya pengen menghapus seluruh memori dan berharap itu sama sekali ngga pernah terjadi. Kurang lebih seperti film Eternal Sunshine of the Spotless Mind.

Sayangnya, pada kenyataannya, saya ngga punya kemampuan untuk menghapus kenangan seperti film itu. Harry lagi bikin program brainwash selama tiga hari untuk anak² PSIK (note : bagi peserta program yang penasaran sama acaranya, please contact me, I’ll tell you everything I know), tapi sayangnya, menurut saya, program harry kurang lebih sama seperti yang selalu saya lakukan kalau benar – benar emosi, jadi saya ngga bisa ikutan acaranya. Bedanya, brainwashnya berlangsung selama tiga hari, padat, penuh doktrin, dan sangat ekstrim, sedangkan saya udah cukup lama dan ngga seekstrim itu (ngga perlu adegan yang menyangkut ‘teriakan² yang kedengeran sampe tiga kilometer’ itu lho, haha..). But still, setelah melalui apapunlah yang saya lalui, rasanya pengen teriak ke semua orang, “UDAH PUAS BELOM?!?!?!”. Kepada seluruh pihak yang bersangkutan, saya pengen nanya, siapa tau merekalah orang - orang yang bisa menjawab pertanyaan saya, mengutip salah satu judul lagu mbak Nelly Furtado, why do all good things come to an end?

Saya ngga tau, apapunlah yang udah saya lakukan, lalui, dan rasakan, bakal ada artinya buat orang – orang, bakal dianggap penting, dihargai, atau apapunlah. So at least, saya tau apa yang udah saya lakukan dan korbanin –walaupun atas inisiatif sendiri- ngga sia – sia. Well, to be fair, saya juga mendapat hikmah, hikayat, dan hidayah dari kejadian sebelumnya, saya berubah dalam beberapa hal. Sebagai contoh, menurut sindhu, sekarang saya lebih sabar. Kalo dulu, misalnya kita janji ketemu dan dia telat dateng, saya bakalan marah – marah dan rusuhnya kayak ada yang ngajakin perang. Sedangkan sekarang, saya bisa nungguin orang berjam - jam. Sial.

Saya berubah karena beberapa hal, antara lainnya atas dasar kenangan. Which is a good thing. Belajar hal baru. Adaptasi. Bertahan. Semua berpegangan dengan beberapa kenangan. So, please don’t tell me it's all worthless and useless.

..

saya bayar spp untuk kuliah. saya bangun pagi untuk kuliah pagi. tadi malem saya berhenti smsan untuk tidur untuk bangun pagi untuk kuliah pagi. tapi ternyata dosennya memutuskan dengan seenak jidat untuk ngga dateng. JADI NGAPAIN SAYA BANGUN JAM 4.30 PAGI KALO NGGA ADA KULIAH PAGI?!?! terkutuklah dosen2 yang ngga dateng kuliah pagi.. lebih terkutuk lagi orang yang menjadwalkan kuliah pagi..

untitled sajah

fuck..
fuck..
fuck..

tadi malem saya ngobrol dengan harry, lebih tepatnya sih mencari pencerahan. karena kalo saya udah capek mikirin penyelesaian dari unanswered questions dalam otak saya, biasanya nanya ke dia dengan menggunakan analogi ngga penting. dan, biasanya lagi, dengan gampangnya dia menjawab pertanyaan2 sok filosofis saya. my own answering machine, hehe..
yang saya tanyain ke harry dalam bentuk yang lebih ringkas, dimana sih batasan memperjuangkan nasib dan maksain-nasib-ngga-terima-kenyataan? ada beberapa orang yang sibuk mengejar hal - hal yang (mungkin) buat orang lain sama sekali ngga penting, cuma untuk membuktikan eksistensinya, dengan harapan akan merubah sesuatu. entah dalam dirinya sendiri, entah untuk orang lain. dan mereka mengejar hal - hal ini dengan alasan mengubah nasib, atau ya itu tadi, membutikan eksistensinya. ato kalo ngga mau ngaku, beralasan mencari kesibukan supaya ngga kepikiran hal - hal yang bikin sedih dan kecewa. (aduh, ini apa lagi..) nah, berdasarkan pengalaman dan realita, kalo saya berusaha mengubah apapun sekecil apapun, butuh perjuangan yang ngga gampang. biasanya pada bagian ini, saya akan merasa down, mulai membandingkan diri dengan orang lain yang, kok kayaknya selalu ngedapetin apa yang saya mau. mulai merasa kesal sama dunia dan tuhan karena ngga adil. merasa ngga berguna buat siapapun dalam bentuk apapun. dan kalo udah gini, mulai merasa depresi. kenapa usaha saya yang paling hebat dianggap kecil sama orang yang paling penting buat saya? dan kenapa2 lainnya, yang kalo tetap saya tulis, akan menjadi satu paragraf yang amat sangat panjang sekali banget pisan.

dan harry bilang gini, "berjuang ya berusaha. kalo maksain, tandanya tidak berusaha. tapi nunggu keajaiban ato mukjizat dateng. karena nasib bisa berubah. tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali kiamat dan umur kita. orang yang ngga terima nasibnya, bakal maksain nasib ato berjuang. atau bunuh diri kayak orang Jepang."

hmh.. setelah itu saya semakin berminat untuk bunuh diri.

NOTE : tulisan di atas tidak bermaksud menyinggung salah satu atau dua pihak. saya cuma pengen nolong, ngasih semangat, dan dukungan. I hope you find what you are looking for.

Hati atau Otak?

Sekarang saya berada dalam posisi yang keren abis. Saya harus memilih salah satu (dan tentu saja mengorbankan yang satunya lagi) dari dua hal yang saya anggap sangat crucial untuk dimiliki semua orang dalam menjalani kehidupan yang keras dan fana ini.

Yang mana yang bakal anda korbanin, hati atau otak?

Sebenernya bukan otak aja sih, ini mencakup ke akal sehat juga. Bisa dibilang, semua hal yang logis, masuk ke dalam kategori ini. Hati dan otak saya sering perang, dua – duanya pengen dianggep paling penting dan dinomersatuin. Kalo saya harus memilih antara baik dan buruk, well, saya udah lulus pelajaran itu sejak SMA. Tapi antara baik dan baik? Damn!

Ngga pake hati, itu sih sama aja jadi robot. Tinggal tunggu perintah trus beep, beep.. Ngga pake otak, sama aja kayak binatang. Mau dijalanin dua – duanya, ha! Kebetulan dalam subjek permasalahan kali ini, keduanya lagi perang, susah diajak damai. Kalo nyuekin keduanya, wah bisa bahaya! Apa jadinya dunia..

Lalu saya nyoba memilah dengan teknik ‘skala prioritas’. Tapi hasil akhirnya kok ngga enak ya? Katanya saya bakal terus sedih. Muncul pertanyaan baru, apa saya ngga boleh bahagia? Okelah, saya bukan manusia perfect yang timbangan dosanya ngga terlalu ke bawah. Saya juga setuju sama hukum karma dan roda samsaranya. Tapi saya kan ngga pernah melakukan salah satu dari panca garuka karma. Trus mau sampe kapan saya dihukum? Sekali lagi, apa saya ngga boleh bahagia?

Mau sampe kapan saya bagi – bagiin kebahagiaan -yang bisa aja saya simpen buat diri sendiri- ke orang lain kayak kacang goreng? Mendingan untuk kali ini, saya simpen sendiri aja. Peduli setan sama orang lain. Tapi sayang sekali, saya percaya kalo ada orang yang menderita waktu atau untuk kebahagiaan anda, then we have a problem. Again.

Kata orang, ntar juga dateng hal – hal yang baik buat anda, pada saat yang tepat. Hmh.. Masalahnya saya bukan sejenis nabi yang memiliki tingkat kesabaran yang edan – edanan. Kasarnya sih, kalo nabi dilemparin batu sama orang – orang, beliau – beliau itu bakal berdoa ke yang berkompeten untuk menunjukkan jalan yang benar. Kalo saya yang dilemparin batu, saya lempar balik dengan kampak. Saya punya batasan sendiri yang udah mencapai titik kulminasinya, sehingga saya ngga perduli lagi sama orang lain. Namun sayang sekali, setelah saya ditempa dengan kesialan dan rasa sakit yang berturut – turut, yaa.. Saya tau banget deh rasanya,dan mendingan orang lain jangan sampe ngerasain apa yang uda saya rasain. Tapi siapa yang mau ngambil posisi saya?

Jadilah mereka berdua berperang. Kata hati saya (yang halus dan lembut seperti bulu kelinci, haha) sabar aja, jangan bikin orang lain menderita cuma biar kamu ngerasa sedikit lebih bahagia. Itu bukan kebahagiaan yang murni, yang sebenarnya. Nanti juga datang saat yang tepat. Mengutip salah satu tulisan di truk gandeng, ‘semua indah pada waktunya’, dan waktu kamu bukan sekarang. Jadi jangan paksain untuk terjadi sekarang, karena ada kemungkinan endingnya ngga enak. Belajarlah untuk bersabar. Embrace the pain and let go. Sabar. Sabar. Sabar. Kata otak saya, fuck it.

Jadi, mana yang bakal anda korbanin, hati atau otak?

Part IV

cahaya..

cahaya . .

cah a y   a  .   .

c a  h a   y  a  .   .

pergilah..

How Can I Go On

When all the salt is taken from the sea

I stand dethroned, I'm naked and I bleed
But when your finger points so savagely
Is anybody there to believe in me
To hear my plea and take care of me?

How can I go on, from day to day
Who can make me strong in every way
Where can I be safe, where can I belong
In this great big world of sadness

How can I forget those beautiful dreams that we shared
They're lost and they're nowhere to be found
How can I go on?

Sometimes I seem to tremble in the dark, I cannot see
When people frighten me
I try to hide myself so far from the crowd
Is anybody there to comfort me
Lord, take care of me

How can I go on
From day to day
Who can make me strong

In every way
Where can I be safe
Where can I belong
In this great big world of sadness

How can I forget
Those beautiful dreams that we shared
They're lost and they're nowhere to be found
How can I go on?

Freddie Mercury - How Can I Go On

Part II

Satu iblis berjalan di bawah rintikan hujan

Siang ini dia merasa aneh

Kali ini dia merasa ringan

Entah karena dia telah memberikan hatinya kepada cahaya

Atau karena dia telah menemukan sebuah cara baru untuk menjalani hidup

Jangan pernah mengharapkan apapun terjadi

Apapun

Sang iblis merasa aman di antara garis hujan

Dia menunduk saat tetesan air menerpa kulitnya

Dan tiba – tiba dia tersadar

Dunia menjadi damai dan sepi

Dan ini karena tetesan hujan

Dia menengadah ke atas

Dia merasakan angin melewati sayapnya

Tetesan hujan yang sama pernah dia lewati dengan langit

Dia mengingat langit pernah menjadi tempatnya untuk terbang

Langit juga pernah menghempaskannya ke tanah dengan keras

Dia mengingat angin pernah membawanya terbang tinggi

Dan saat itu dia merasa sangat bahagia

Tapi dia tidak pernah siap dengan kenyataan

Angin juga meninggalkannya sendirian di malam yang sepi

Ada satu masa

Sang iblis tidak mau menatap langit

Meludahi angin yang mencoba memanggilnya

Karena hempasan itu masih terasa sampai saat ini

Hari ini hujan turun

Seluruh ingatannya bergulir kembali kepada langit dan angin